PROFIL PELATIH: ANDRE VILLAS-BOAS

Luis Andre de Pina Cabral e Villas-Boas atau lebih dikenal sebagai Andre Villas-Boas adalah seorang pelatih muda asal Portugal yang sangat berpotensial untuk beberapa tahun mendatang. Mungkin agak berlebihan dengan sandangan "potensial", tetapi Villas-Boas belajar tentang kepelatihan dari salah satu pelatih bertangan dingin Jose Mourinho dan sang legenda bagi rakyat Inggris, Geordies dan cules yaitu sir Bobby Robson. Tetapi pria yang lahir pada 4 April 1977 ini seakan menghadapi pahitnya memegang tampuk pelatih yang sarat akan ekspektasi tinggi dari owner dan supporter. Tidak ada jaminan sesorang yang memiliki CV bagus atau populer, bisa langgeng memegang kepelatihan suatu klub. Sama seperti Maradona ketika memegang timnas Argentina. Ekspektasi sama dengan harga mati.

Karir Villas-Boas tidak dapat dipisahkan dari para mentor, Mourinho dan sir Bobby Robson (RIP). Sempat menjadi asisten Mou ketika di Fc Porto, Inter Milan serta Chelsea dibidang opponent scouting, yaitu jenis pekerjaan yang bertugas mencari statistik serta data-data calon pemain lawan. Ketika menjabat, Villas-Boas yang memiliki seorang istri bernama Joana Maria Noronha de Ornelas Teixeira, membawahi beberapa analisis hebat yang berlisensi dan selalu mencari data, bahkan sampai mendetail. Termasuk kebiasaan-kebiasaan pemain lawan. Itu sebabnya Mou selalu sukses ketika memegang Fc Porto, Chelsea dan Inter Milan. Setidaknya pada tahun kedua melatih. Tetapi taktik yang mengandalkan opponent scouting ini memiliki kekurangan jika bertemu tim-tim yang memiliki fluiditas tinggi atau tim-tim yang kurang terkenal karena kekurangan data. Sering kali ketika melawan tim baru, Villas-Boas menyarankan bermain bertahan di babak pertama, dan ketika half-time, dalam waktu 5 menit, dia akan mengolah data-data di babak pertama kemudian akan menyerahkan segulung kertas beserta strategi apa yang mesti dipakai.

Villas-Boas yang lancar berbahasa Inggris karena sang nenek berasal dari Stockport Inggris dan bermigrasi ke Portugal hanya untuk memulai bisnis wine ini, mendapat pekerjaan pertamanya dari sang almarhum sir Bobby Robson ketika masih menjabat pelatih Fc Porto pada tahun 1993, di bidang observasi. Pun sir Bobby yang mendorong dia untuk mengambil kursus kepelatihan berlisensi FA, lisensi C UEFA dan metode kepelatihan berdasarkan Ipswich Town Fc. Villas-Boas pun mengambil kepelatihan lisensi B, lisensi A serta UEFA Pro dari National Sport Center, Skotlandia yang dibawahi oleh Jim Fleeting. Fleeting pun adalah orang yang memberi lisensi kepelatihan kepada Jose Mourinho yang sempat menjadi penterjemah sir Bobby Robson di Fc Barcelona.

Setelah mendapat lisensi-lisensi tersebut, Villas-Boas melatih timnas Kepulauan BritishVirgin di usia 21. Tidak ada yang menarik ketika dia melatih timnas tersebut. Bisa di bilang, itu adalah semacam pentasbihan dia sebagai pelatih profesional. Setelah melatih timnas selama 1 tahun di tahun 1998-1999, Villas-Boas kemudian kembali ke Fc Porto untuk menjadi asisten pelatih dari Jose Mourinho. Dan ketika Mou meninggalkan Porto untuk melatih Chelsea serta Inter, Villas-Boas mengikutinya.

Pada awal musim 2009-20010, Villas-Boas meninggalkan Mou untuk memulai karirnya sebagai head coach dari tim Academica de Coimbra, sebuah tim yang lumayan kecil di liga Portugal. Ketika pertama kalinya memegang Academica, tim tersebut dalam posisi sulit. Berada di zona degradasi dengan kemenangan seperti impian semata. Sang pendahulu Rogeria Goncalves pun sampai mengundurkan diri ketika melatih tim tersebut.
Dan ketika Villas-Boas memperkenalkan sistem baru, Academica menduduki posisi 11 di klasemen akhir liga Portugal serta memasuki semi final kejuaraan liga Portugal yang kemudian kalah dari Fc Porto oleh gol Mario Gonzales di menit-menit akhir. Suatu pencapaian yang sangat bagus bagi seorang "rookie" yang kemudian berimbas kepada spekulasi kemungkinan Villas-Boas melatih Fc Porto atau Sporting di musim panas 2010.

Pada 2 Juni 2010, Fc Porto mengumumkan Villas-Boas sebagai pelatih tim tersebut dan pada 7 Agustus 2010, Villas-Boas mencicipi manisnya sebuah tropi, setelah memenangkan kejuaraan Super Cup liga Portugal dari sang seteru Benfica 2-0. Kemudian Fc Porto memenangkan juara Liga Primera Portugal, kejuaraan liga EUFA serta kejuaraan Portuguese Cup.
Selain pencapaian tersebut, Villas-Boas mencatatkan diri sebagai pelatih termuda yang menjuarai liga EUFA di usia 33 tahun dan 213 hari. Serta menjadi pelatih termuda ketika yang menjuarai liga Portugal bersama Fc Porto dengan rekor tidak terkalahkan dengan 27 laga kemenangan dan 3 kali hasil imbang. Keberhasilan hanya akan tumbuh di habitat yang sesuai disertai kerja keras.
Setahun kemudian, tepatnya 21 Juni 2011, Villas-Boas mengundurkan diri sebagai pelatih Fc Porto dan akan bergabung dengan raksasa asal Stamford Bridge, Chelsea Fc.
Pada tanggal 22 Juni 2011, Chelsea mengumumkan Villas-Boas sebagai pelatih baru mereka dan sebuah sejarah beserta pengalaman akan segera terjadi.

Chelsea mengkontrak ayah dari Benedita dan Carolina ini selama 3 musim setelah Chelsea membayar klausul fee realese sebesar 13.3 poundsterling kepada Fc Porto. Piala pertama Villas-Boas di Chelsea terjadi ketika Chelsea menjuarai 2011 Barclays Asia Trophy pada tur pra-musim. Kemenangan Villas-Boas di ranah Inggris terjadi pada pertandingan kedua EPL di tanggal 20 Agustus 2011 ketika melawan West Bromwich Albion dengan skor akhir 2-1, setelah pada laga pertama ditahan imbang oleh Stokes City dengan skor akhir 0-0.
Pada tanggal 18 September 2011, Chelsea kalah untuk pertama kalinya semenjak di pegang Villas-Boas dari Manchester United dengan skor akhir 3-1 di Old Trafford. Selain kekalahan pertama Chelsea di era Villas-Boas, juga kekalahan pertama Villas-Boas dalam 39 laga semenjak menukangi Academia dan Fc Porto.

Tanggal 20 Oktober 2011 mungkin menjadi memorable-memory bagi The Gooners karena Arsenal mengalahkan Chelsea dalam derby London dengan skor akhir 3-5 di Stamford Bridge, setelah sebelumnya kalah dari Queen's Park Rangers dengan skor 1-0. 3 minggu kemudian, Chelsea kalah lagi di pertandingan home melawan pasukan King Kenny Dalglish, Liverpool dengan skor akhir 1-2. Permainan Chelsea cukup tidak stabil di PL, meski di Liga Champion Chelsea keluar sebagai juara grup F.

Beban mulai terasa berat ketika Chelsea terlempar dari posisi 4 besar pada 20 Februari 2012, setelah kalah dari Everton 0-2. Villas-Boas membatalkan hari libur pasukannya dan melakukan latihan intensif. Hal ini membuat beberapa pemain gerah dan mengajukan protes langsung kepada Roman Abramovich, selaku owner. Ketika Chelsea bermain melawan klub Itali, Napoli di Liga Champion, Villas-Boas melakukan sebuah blunder lagi, yaitu tidak memainkan Lampard, Essien dan Asley Cole yang mejadi pertanyaan besar bagi Abramovich. Puncaknya terjadi ketika Chelsea kalah dari West Bromwich Albion 1-0 pada tanggal 4 Maret 2012. Kekalahan tersebut membuat Chelsea berada di posisi 5 klasemen sementara (09-03-2012), terpaut 3 poin dari Arsenal yang berada di posisi 4. Dengan rekor 13 kali kemenangan, 7 kali imbang serta 7 kali kalah, Abramovich pun mengambil langkah pemutusan hubungan kerja dengan Villas-Boas dengan kompensasi 10 juta poundsterling.

Sepertinya Villas-Boas kurang mendapat respect dari para pemain yang rata-rata hampir seusia dengannya. Pun ada beberapa masalah personal pemain menjadi semacam penambah kekurang-harmonisan ruang ganti. Mungkin masalah rasis JT cukup membuat andil yang sangat besar, karena berimbas kepada hal-hal lainnya. Capello mengundurkan diri dari posisi pelatih timnas The Three Lions sebagai bentuk protes akibat pencopotan masalah tersebut. Di skuad Chelsea pun terdapat beberapa pemain berkulit hitam.
Jangan lupakan masalah Torres yang di beli dari Liverpool seharga 50 juta poudsterling dan belum bisa berbuat banyak dalam perolehan gol. John Terry pun mengakui bahwa para pemain Chelsea kurang bekerja keras ketika masih dalam kepelatihan Villas-Boas.

Sepertinya Abramovich terlalu menggantungkan harapan tinggi terhadap Villas-Boas. Tidak ada yang namanya juara instant. Lihat saja Real Madrid, Barcelona atau MU. Real Madrid mendapat gelar La Liga setelah melakukan pembelian besar-besaran 2 tahun lalu. Permainan Barcelona bisa menjadi padu akibat pendidikan yang di lakukan akademi mereka, La Masia, bertahun-tahun lalu.
Jika Abramovich menjadikan Manchester City yang menduduki posisi paling atas dalam klasemen sementara sebagai acuan, maka kekecewaan seperti sekarang yang di dapat. Roberto Mancini adalah pelatih yang lebih berpengalaman dibanding Villas-Boas dan di dukung oleh pemain-pemain berkualitas tinggi, meski mereka gagal dalam beberapa kejuaraan. Kesabaran akan berbuah manis, jika kita telah melakukan yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar