KUTUKAN KIPER BARCA

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitu juga dengan pemain sepakbola. Kadang mereka bermain cemerlang dan sering kali bermain dibawah harapan. Alasan kenapa seorang pemain bisa mengalami permainan yang buruk bisa karena alasan mental, fisik atau memang sedang sial. Terkadang ada alasan tertentu yang sulit dijelaskan oleh alasan logis. Penjaga gawang di Fc Barcelona, misalnya.


Di tim sekelas Barcelona yang selalu diisi pemain-pemain bola handal, seharusnya tidak sulit untuk mendatangkan kiper. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Lini pertahanan di mistar gawang ini semacam mengalami kutukan. Siapapun dia atau seberapa jagonya dia, semua akan hilang begitu saja. Bahkan ada beberapa yang berakhir tragis dengan melakukan bunuh diri, beberapa tahun kemudian setelah keluar dari Barcelona. Kebanyakan dari mereka mengalami cidera dan tidak bisa kembali ke performa semula. Banyak yang untuk tampil di klub lebih rendah pun mereka tidak bisa.

Dahulu Barcelona memiliki  Antoni Ramallets yang sukses mendapatkan gelar Zamora sebanyak 5 kali di musim 1951/51, 55/56, 56/57, 58/59 dan 59/60. Pun Ramallets pernah mengantarkan Barcelona 3 buah tropi dalam semusim sebanyak 2 kali. Penjaga gawang setelah Ramallets yang juga mengkoleksi 5 tropi adalah Victor Valdes dan VV masih bermain sampai sekarang sehingga memiliki kesempatan untuk melampaui Ramallets dan menjadikan dirinya sebagai peraih trofi Zamora terbanyak sepanjang masa. Iker Casillas yang merupakan penjaga gawang timnas Spanyol saja sampai saat ini hanya mampu meraih 1 kali di musim 2007/08. Perlu diketahui, trofi Zamora adalah trofi untuk penjaga gawang dengan jumlah kebobolan paling sedikit dalam 28 pertandingan dan hitungan untuk disebut 1 buah pertandingan adalah bermain minimal 60 menit. Namun ini tidak bisa mentasbihkan bahwa peraih Zamora adalah kiper bagus, karena peran serta lini bertahan turut andil dalam menghalau segala serangan. Jadi, wajar jika Iker Casillas masih menjadi kiper timnas Spanyol meski tidak mendapatkan penghargaan, dibanding VV yang meraih trofi ini 4 kali berturut-turut.

Di musim 1986 hingga 1994, Barcelona memiliki penjaga gawang yang hebat juga, yaitu Andoni  Zubizarreta. Zubi adalah pemain asal Basque yang sebelumnya pernah bermain di Alaves dan Athletic Bilbao. Meski berlabel kiper timnas Spanyol, Zubi pun hanya 1 kali meraih penghargaan Zamora yaitu di tahun 1986/87 ketika baru pertama kali join tim asal Katalan. Zubi masuk dalam tim elite di bawah asuhan Johan Cruyff yang dilabeli The Dream Team. Zubi pernah menyabet gelar Don Balon Award di tahun 1987. Di tahun-tahun keemasan Barcelona bersama Johan Cruyff, Zubi dalam puncak performanya. Tetapi 2 tahun sebelum kepindahannya, Zubi mendapat kritikan keras terhadap performanya yang menurun.

Setelah Zubi pindah ke Valencia di tahun 1994, masalah kemudian bermunculan secara perlahan. Carles Busquets tampil sebagai kiper utama selama 2 tahun dari tahun 1994 sampai 1996. Dalam 2 tahun tersebut Busquets tampil sebanyak 69 kali dengan jumlah kebobolan bagi Barcelona sebanyak 84 gol. Perlu diketahui bahwa kiper cadangan pun turut bermain, jadi jumlah kemasukan itu total dari semua penjaga gawang yang tampil, bukan perorangan. Kiper cadangan musim 1994/95, Jesus Mariano Angoy Gil bermain sebanyak 5 kali dan Julen Lopetegui Argote bermain sebanyak 3 kali. Kiper cadangan musim 1995/96 Angoy bermain sebanyak 4 kali dan Argote bermain sebanyak 2 kali. Selama 2 musim tersebut, Barcelona hanya mampu meraih piala Super Spanyol di tahun 1994 ketika mengalahkan Real Zaragoza. Perlu di catat, di leg kedua di ajang tersebut Barcelona bermain di Camp Nou dan kebobolan sebanyak 5 buah gol, meski Stoickhov dan Begiristain mampu menyumbangkan masing-masing 2 buah gol.

Vitor Baia adalah penjaga gawang selanjutnya yang berasal Portugal dengan label kiper timnas di tahun 1996. Kala itu Baia dibawa dari Fc Porto oleh sir Bobby Robson (RIP) yang turut membawa Jose Mourinho sebagai penterjemah.  Di tahun pertamanya, Baia dengan sir Bobby mampu meraih gelar Super Spanyol, Copa del Rey dan UEFA Winner's Cup atau yang sekarang di sebut European League. Anehnya, dengan raihan seperti itu para cules tidak bangga karena gelar La Liga jatuh ke tangan Real Madrid.
Di musim 1996/97, kiper cadangan pertama adalah ayah dari Sergio Busquets, Carles Busquets yang hanya mampu tampil sebanyak 4 kali. Francesc Xavier Arnau menjadi kiper ketiga yang bermain sebanyak 1 kali dan Julen Lopetegui Argote menjadi kiper cadangan keempat, tanpa pernah tampil di skuad utama di musim tersebut.

Pada awalnya Barcelona berniat mendatangkan penjaga gawang asal Jerman yang bermain di Eintracht Frankfurt, Andreas Kopke. Kopke pada saat itu adalah kiper yang bagus dengan gelar Kiper Terbaik Eropa dan IFFHS Kiper Terbaik Dunia di tahun 1996. Namun usaha untuk mendatangkan Kopke gagal karena Barcelona sudah membuat kesepakatan dengan Vitor Baia yang juga nominator untuk IFHHS Kiper Terbaik Dunia di tahun 1995. Mungkin ada pengaruh dari sir Bobby untuk mendatangkan Baia yang notabene adalah bekas anak asuhnya kala di Fc Porto. Meski begitu, Baia menunjukan kelasnya dan membuat publik Camp Nou lega. Baia dianggap sebagai kiper asing terbaik di La Liga saat itu.

Masalah kemudian menjadi pelik kala sir Bobby Robson yang memang di plot sebagai "pelatih cadangan", sambil menunggu kepindahan pelatih asal Belanda Louis van Gaal, tidak diperpanjang kontraknya yang memang satu tahun. Kala itu Nunez memang menginginkan adanya pelatih asal Belanda karena sebelumnya telah memecat Johan Cruyff dengan alasan pribadi. Nunez berfikir bahwa semua pelatih Belanda akan sukses di Barcelona. Well, van Gaal banyak disebut oleh cules sebagai pelatih "gagal".
Ketika itu, Baia memiliki masalah pribadi dengan Van Gaal yang membuatnya mesti menjadi kiper kedua dibawah Ruud Hesp. Baia hanya tampil 2 kali di musim 1997/98. Carles Busquets menjadi kiper ketiga. Pun ketika itu Baia dirudung cidera.
Hesp ketika itu tampil sebanyak 36 kali dari jumlah total 38 pertandingan. Penampilan Hesp bisa dibilang cemerlang. Mempersembahkan 2 buah gelar La Liga, 1 Copa del Rey dan 1 buah gelar Piala Super Eropa.
Di musim 1998/99, Hesp masih menjadi penjaga gawang tim inti dengan nomer punggung 13. Sedangkan Baia yang memegang nomer punggung 1, menjadi cadangan keempat karena cidera, setelah kiper lulusan La Masia, Arnau dan Carles Busquets.
Musim berikutnya, Baia dijual kembali ke Fc Porto dan Carles Busquets bermain ke tim kecil bernama UE Lleida sebelum akhirnya pensiun di tahun 2003.

Awal milenium adalah awal dari keterpurukan Barcelona. Dari sisi politis, Josep Lluis Nunez mengundurkan diri setelah hampir 22 tahun menjabat sebagai presiden. Waktu itu tekanan dari fans sangat tinggi terhadap Nunez. Meski Nunez membawa Barcelona ke tingkat yang lebih tinggi, namun banyak yang kecewa dengan cara Nunez menggaji pemain. Bisa di bilang, Nunez agak pelit untuk menggaji lebih tinggi pemain yang bagus. Ronaldo, Figo, Maradona, Schuster ataupun Stoickhov, "kabur" karena merasa tidak dihargai.
Ketika sang wakil Joan Gaspart menjabat menjadi presiden, things gone from bad to worst. The dark ages of Barcelona has begun. Mungkin maksud dari Gaspart adalah memberi kesempatan pemain La Masia untuk bermain di tim utama agar berkembang. Bisa juga agar bisa menekan pengeluaran dari segi gaji dan transfer. Pemain-pemain seperti Xavi dan Puyol yang tahun sebelumnya menjadi rookie, mendapat tempat di tim utama. Pepe Riena pun menjadi kiper yang memiliki 26 kali kesempatan bermain di semua ajang. Sedangkan kiper kedua asal Prancis, Richard Philippe Dutruel mendapatkan jatah 21 kali kesempatan. Arnau hanya diberi 8 kali bermain di semua ajang saat itu. Kala itu Reina menjadi kiper ketiga, namun Dutruel dan Arnau lebih sering cidera. Makanya di tahun tersebut Reina memperoleh caps yang banyak. Namun ketika Sang pelatih Llorenc Serra Ferrer dipecat, Reina kurang mendapat tempat di tim utama oleh Carles Rexach. Sama seperti musim 99/00, di musim tersebut Barcelona tidak memenangkan tropi apapun. Hanya mampu finish di posisi 4 dan di Liga Champion Barca tidak mampu melalui penyisihan grup. Di UEFA Cup Barcelona hampir saja kalah oleh tim asal Spanyol lainnya, Celta Vigo, namun unggul oleh gol tandang. Di semifinal, Barca kalah oleh Liverpool di Anfield 1-0 dan 0-0 di Camp Nou. Benar-benar mengecewakan!

Musim 2001/02, Carles Rexach mendatangkan kiper asal Argentina, Roberto Bonano dan membuang Arnau ke Malaga. Bonano mendapatkan caps sebanyak 42 kali di musim tersebut. Pepe Reina yang masih berusia 19 tahun mampu mendapatkan 15 caps. Sedangkan Dutruel tidak pernah bermain di musim itu. Di musim ini pun Barcelona hanya mampu finish di posisi 4 klasemen akhir La Liga. Di Liga Champion, Barca hanya mampu sampai ke semifinal karena kalah oleh Real Madrid dengan agregat 3-1.

Untuk musim 2002/03, Gaspart kembali memberi kesempatan kepada meneer van Gaal. Hasilnya? Mengecewakan. Van Gaal memang terkenal dengan kekeras-kepalaan dan otoriter. Dia membuat para pemain stress. Di musim ini Barcelona sampai 3 kali berganti pelatih. Louis van Gaal, De la Cruz yang hanya melatih selama 1 pertandingan dan pelatih asal Krosia, Radomir Antic. Bonano masih dipertahankan di musim ini, dan mendapat 32 caps untuk semua ajang. Pepe Reina di jual ke Villareal. Penjaga gawang asal Jerman, Robert Enke bergabung dengan tim Barca kali ini, tapi hanya mendapat 3 caps untuk semua ajang. Di tahun ini sahabat Pepe Reina, yaitu Victor Valdes mendapat kesempatan tampil di tim utama dengan 20 caps untuk semua ajang. Meski pada awalnya hanya menjadi kiper kedua dibawah Bonano, namun Radomir Antic lebih mempercayai VV di mistar gawang daripada Bonano dan Enke yang notabene kiper timnas negaranya masing-masing. Suatu kesempatan berharga bagi pemuda berusia 20 tahun dan membenci menjadi penjaga gawang. Enke memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di tanggal 10 November 2009 dengan cara menabrakan diri ke kereta. Enke menderita stress selama 6 tahun terakhir karena kehilangan putrinya, Lara.
Barcelona finish di posisi 6 klasemen akhir dan di Liga Champion hanya sanggup meraih perempat final.
Di musim 2002/03 pun terjadi pergerakan politik di manajemen Barcelona. Para fans sudah muak dengan Gaspart. Meski Gaspart mencoba "membeli" para Boixos Nois agar tetap menjadi presiden, namun manusia waras pun tahu bahwa kepemimpinan Gaspart sangat buruk. Tidak pernah memenangkan satu buah tropi apapun dari tahun 99 dan kalah (baca: IRI) dari Real Madrid yang dalam masa keemasan El Galacticos. Akhirnya di bulan Februari Gaspart mengundurkan diri dan di ganti oleh sang wakil, Enric Reyna. Another bone-head on the board. Nice!

Di bulan 6 Mei 2003, Reyna mundur dari kepresidenan karena akan menghadapi pemilihan presiden baru. Meski akan mundur, Reyna mencoba mendatangkan beberapa pemain baru, tapi tentu saja usaha tersebut gagal. Di bulan Juni Joan Laporta memenangi pemilihan presiden, meski pada awal pemilihan Laporta tidak populer, namun hal itu meningkat dengan janji akan mendatangkan superstar David Beckam ke Camp Nou.
Setelah Laporta menduduki kursi kepresidenan, ternyata Becs menolak tawaran Barcelona. Takut kehilangan muka, maka Laporta mendatangkan seorang pemain yang kurang begitu terkenal saat itu dan tidak poser dibanding Becs yang bermain di liga Prancis, Ronaldinho.

Musim pertama Laporta sangatlah berat. Selain mesti membangun kepercayaan diri para pemain dan fans, pun mengemban jutaan harapan dari fans agar bisa lebih baik dari Real Madrid. Laporta masih mempertahankan VV di skuad meski hanya bermain sebagai cadangan pada awalnya. Saat itu Barca kedatangan pemain asal Turki yang bermain gemilang di EURO dengan status free transfer, Rustu Recber. Pada awalnya sih berjalan sempurna. Namun Rustu cidera ketika akan memulai liga, dan Rijkaard memilih VV sebagai kiper utama karena alasan cideranya Rustu dan kekurang-fasihan Rustu dalam bertutur kata bahasa Spanyol. Alasan terakhir membuatnya marah dan musim berikutnya Rustu dipinjamkan ke Fenerbache, tidak lama kemudian dibeli Fenerbache.

Di musim 2003/04 Barca tidak mendapat piala apapun. Hanya mampu finish di posisi 2 klasemen akhir dibawah Valencia yang di gawangi Canizares dan di arsiteki Rafa Benitez. DI UEFA Cup Barca hanya mampu sampai 16 besar sebelum akhirnya kalah dari tim asal Skotlandia, Celtic 1-0. Kala itu Rijkaard memutuskan mundur dari Barcelona karena hasil yang mengecewakan. Rijkaard faham bahwa saat itu ekspektasi fans sangat tinggi. Namun keinginan tersebut di tolak mentah-mentah oleh Laporta yang mempunyai penasihat pribadi, Johan Cruyff. Frank Rijkaard adalah bekas anak asuh Johan Cruyff ketika masih berseragam Ajax. Menurut saya Cruyff sangat yakin bahwa strategi Rijkaard sudah benar hanya tinggal beradaptasi para pemain. Pemilihan Rijkaard menurut saya tidak jauh dari "bisikan" Cruyff.
Keputusan mempertahankan Rijkaard pun karena Rijkaard bisa mengalahkan Real Madrid 1-2 di Bernabeu di bulan April tanggal 25! Meski di Camp Nou kalah 1-2 dari Madrid di bulan Desember. Kekalahan dari Madrid ini lah yang membuat Rijkaard sempat berfikir untuk mundur.
Bonano di musim tersebut tidak mendapat caps. Youngster dari La Masia lainnya Albert Jorquera tampil di 2 buah pertandingan liga. Rustu, yah begitu deh, hanya menjadi pelapis VV.

Musim 2004/05 semakin mengukuhkan VV sebagai penjaga gawang tim utama. Jorquera hanya menjadi pelapis dan mendapat 2 buah caps. Kiper ketiga pun berasal dari La Masia, Ruben yang mendapat 2 caps. Dari tahun 2004/05 sampai sekarang VV masih menjadi pilihan utama kiper. Meski Barca berganti pelatih menjadi Pep, VV tidak tergoyahkan di nomer 1. Banyak fans yang meragukan VV sampai hari ini. Kesalahan yang sering dibuat VV adalah blunder. Namun raihan Zamora sebanyak 5 kali bukan tanpa alasan. Untuk para fans yang meragukan VV, harap ingat zaman-zaman Barcelona di era Gaspart dahulu. Bagaimana Barcelona kesulitan untuk menang dan tidak memiliki kiper yang stabil. Jika kalian ingat saat-saat itu, saya yakin kalian akan bersyukur telah melalui saat-saat gelap Barca atau berterima kasih karena tidak mengenal Barca ketika itu. Jika merujuk ke timnas, sangat wajar. Meski Real tidak juara atau pun kebobolan banyak, namun Iker adalah kiper yang lebih baik dibanding VV. Lebih dari itu, Iker adalah kapten timnas yang bertugas menterjemahkan strategi pelatih dan mengorganisir permainan.




FIDELITAS BLAUGRANA SENSE LIMITS




Sumber: Wiki & Barca Forum.




sumber:

5 komentar:

  1. secara teori VV memang bukan tipe kipper yg sempurna tapi Barca memang bukan membutuhkan kipper yg hanya bisa menjaga gawang dri kebobolan, VV telah menjalankan tugasnya dgn baik. tim yg memiliki serangan seperti Barca udh wajar jika sering kebobolan karena open play. mungkin next time La Masia perlu memikirkan cara melahirkan kipper yang bener2 mengerti ttg filosofi Barca tpi yg penting kipper tidak boleh panik dan harus paham bahwa dia adalah pintu terakhir pertahanan jadi secara mental harus lebih siap. Visca Barca

    BalasHapus
  2. VV bukannya panik. Tp dia memang sweeper keeper. Tugas dia adalah maju kedepan untuk one-on-one duel. hahaha

    BalasHapus
  3. satu2nya kiper mumpuni yanG pernah bermain di BarCa hanyaLah Ruud hesp,penempatannya sanGat tepat waLo reaksinya kuranG siGap akan ttp diaLah kiper asinG yanG mendapatkan tempat di hati para fans barCa

    BalasHapus
  4. Valdes kiper terbaik utk barca. Semua orang bilang alasan Valdes meraih Zamora adalah karena pertahanan Barca solid padahal bukan hal yg mudah jd kiper Barca karena Barca sering bermain dengan defensive line yg tinggi yg itu berarti lawan sering sekali tinggal berhadapan dengan kiper jika lolos jebakan offside. Beda dengan Casillas yg cenderung lebih terlindungi karena bek Madrid bermain lebih kedalam. Bahkan salah satu pelatih kiper Spanyol dulu pernah bilang bahwa dalam hal one and one dan footwork Valdes kiper yg lebih baik dari Casillas.

    BalasHapus
  5. Don Juan Cules10 Oktober 2013 19.10

    Valdes itu kiper legendaris Barca.. lebih hebat dari Zubi sekalipun..

    BalasHapus