Juru Selamat itu Bernama Johan Cruyff

Kemarin (24/03), dunia sepak bola berduka setelah legenda Belanda, Johan Cruyff berpulang karena kanker. Penyakit yang telah ia derita selama 12 tahun akhirnya mengantarkan meneer Johan ke liang kuburnya.


Ya, Johan Cruyff mungkin kalah dalam pertandingannya melawan kanker, tapi ia akan selalu dinobatkan sebagai pemenang oleh para pecinta sepak bola. Ucapan bela sungkawa datang dari seluruh penjuru dunia, termasuk para pemain bahkan tim rival!

Apa sebenarnya yang membuat Johan Cruyff begitu dicintai publik sepak bola ? Ia tidak pernah memenangkan Piala Dunia, turnamen paling prestisius di sepak bola. Tidak semua orang sudah hidup kala Cruyff merasakan masa emasnya bersama Ajax, Belanda, dan Barcelona, tapi kenapa kematiannya membuat lintas generasi berduka ?

Bagi suporter Ajax Amsterdam dan FC Barcelona, Cruyff adalah maestro.

Sosok Opa Cruyff datang sebagai juru selamat. Sebuah anugerah yang diberikan Illahi kepada 'kemediokeran' Ajax dan Barcelona, cahaya teruntuk klub yang masih dikungkung ketradisional mereka. Tak heran jika nantinya Johan Cruyff akan menyandang gelar legenda terbaik sepanjang masa.

Banyak puja dan puji serta kekaguman dialamatkan kepada Cruyff kala masih aktif sebagai pemain, tapi raihan piala hanya akan tercantum di buku sejarah, dan warisan Johan Cruyff untuk sepak bola lebih dari itu.

"Tanpa Cruyff, saya tidak memiliki tim.", Ujar Rinus Michels.

Bagi Rinus Michels, pembawa DNA Total Football Vic Buckhingham, sekaligus pelatih dan mentor Johan Cruyff, pemain satu ini lebih dari seorang maestro. Ia adalah jelmaan sempurna dari ide Total Football, gaya permainan yang hingga kini identik dengan dirinya.



Johan Cruyff lalu datang ke FC Barcelona, klub Katalan saat itu sedang mengalami berbagai masalah. Mereka iri dengan kesuksesan Real Madrid dengan Quinta del Buitre di atas lapangan. Sementara di luar, Presiden Josep Lluis Nunez menendang semua pemainnya akibat kasus pajak, Hisperia Munity.

Hanya Andoni Zubizareta yang dipertahankan klub. Kemudian, Cruyff memberi sebuah gagasan menarik untuk memperkuat akademi FC Barcelona. Sebagai pemain, ia meminta pihak klub untuk membuat pondok pemain muda agar sepak bola bisa menjadi makanan sehari-hari mereka, dari bangun hingga tidur.

Ide tersebut nyatanya menjadikan pembinaan pemain muda FC Barcelona lebih efektif. Mereka tidak hanya bergerak sebagai sekolah sepak bola, tapi asrama.

Hasilnya, Azulgrana -julukan FC Barcelona- berhasil meraih European Cup dengan skuat pemain-pemain binaan akademi, dan Basque. Kali ini Cruyff telah berperan sebagai manajer klub, dan sukses membentuk tim impian untuk menghadapi Sampdoria di final European Cup 1992.

Lebih dari sekedar piala, Cruyff membentuk pondasi penting untuk kesuksesan FC Barcelona saat ini. Bertemu Sampdoria yang saat itu dibela Roberto Mancini dan Gianluca Vialli, Cruyff mengandalkan seorang gelandang kurus, cerminan dirinya saat masih aktif di lapangan.

Nama gelandang tersebut adalah Josep Guardiola. Sempat diragukan untuk sukses di tim utama karena fisiknya, Cruyff membuat Guardiola membuktikan dirinya. Penampilan memang bisa menipu.

Tanpa suntikan percaya diri dan filosofi dari Cruyff, resume Guardiola tidak akan segemilang sekarang.

Terdengar berlebihan dan klise memang, tapi Johan Cruyff bagaikan oksigen bagi FC Barcelona.

Ia yang mengajarkan klub satu ini untuk mengontrol penguasaan bola, menekan ruang lawan, dan juga aplikasi jebakan offside. Ia bahkan meminta kiper untuk pandai mengolah bola dan tak ragu untuk maju, menjadi inisiator serangan tim. Johan Cruyff mungkin hanya seorang kakek-kakek cerewet di mata pendukung Sandro Rosell, tapi tanpa dirinya, FC Barcelona tidak akan seperti sekarang.

Total 12 piala disumbangkan Johan Cruyff ke almari FC Barcelona, ia bukan hanya menyumbangkan piala, tapi juga memantenkan nama klub Katalan sebagai raksasa sepak bola.

Kini, ketika ide Cruyff telah menyebar luas ke semua dataran dunia sepak bola dengan tiki-taka Guardiola sebagai produk unggulan di etalasenya, tetap saja banyak di antara mereka yang gagal mengadopsi permainan Johan Cruyff ke dalam klub mereka.

Mereka hanya melihat ide Cruyff sebagai formasi di atas lapangan, 4-3-3 menjadi patokannya. Padahal bagi Cruyffistas -penganut paham Johan Cruyff-, ide tersebut terlalu besar untuk diterapkan secara tradisional, naif, dan keras kepala.

Mantan pemain FC Barcelona, Thierry Henry pernah merasakannya saat ia masih membela Arsenal. Arsene Wenger sempat menerapkan Total Football ala Cruyff, apapun formasinya.

"Formasi tidak penting. Kami harus selalu membawa mentalitas Total Football di setiap pertandingan, entah itu dengan 4-3-3, ataupun 6-4-0. Semua harus bisa mengisi posisi satu sama lain, baik menyerang ataupun bertahan.", Ungkap Thierry Henry yang kini menjadi pundit Sky Sports.

Benar kata Henry, Cruyffistas akan selalu mengutamakan kebebasan bermain, berbeda dengan Cattenacio. Namun layaknya semua ideologi, pasti muncul ide tandingan. Bagi Cruyffistas, rival mereka adalah Louis van Gaal dan Jose Mourinho.

Keduanya pernah berada di klub 'bentukan' Cruyff, dan membuang semua ajaran yang ada.

Bahkan Johan Cruyff pernah melempar kritik kepada Ajax Amsterdam arahan van Gaal. Meski menjuarai Champions League 1995, Ajax dianggap bermain layaknya robot, dan sama seperti pendukung Sandro Rosell, maestro Belanda hanyalah kakek-kakek tua di mata manajer Manchester United satu itu.

Filosofi van Gaal juga muncul karena ia telah melihat dan mempelajari Total Football Cruyff, sebelum merubah detil-detil kecil. Louis van Gaal kemudian hijrah ke FC Barcelona menggantikan Sir Bobby Robson, hal yang pertama ia lakukan di Katalan adalah menunjuk Jose Mourinho sebagai asisten manajer.

Mou sebelumnya bertindak sebagai penerjemah Sir Bobby Robson, sekaligus sosok yang bertanggung jawab untuk pertahanan tim. Tugas itu tetap ia emban kala bersama van Gaal dan berubah menjadi anti-thesis Total Football Cruyff. Jika Cruyff adalah Yesus, maka Mourinho dan van Gaal menjadi Yudas-nya.

"Kemenangan adalah hal penting, namun jika kita meraihnya dengan gaya sendiri, orang lai akan memuji, meniru kita. Itu adalah karunia terindah.", Ini perkataan Johan Cruyff yang diamini Arsene Wenger, tidak Jose Mouriho. Kita sendiri tahu bagaimana Jose mementingkan kemenangan lebih dari apapun, ia bahkan berani 'memakir bis' dan mengorbankan karir Asier del Horno untuk mematikan Cruyffistas.

Ketika Florentino Perez menunjuknya sebagai pelatih untuk menghentikan dominasi Guardiola dan Total Football, Mourinho menerima tugas tersebut dengan rasa senang hati, dan dendam kesumat.

Jika Cruyff adalah Tuhan, Mourinho dan van Gaal adalah Yudas, maka Guardiola, Arie Haan, Wim Jansen, Ruud Krol, Roberto Martinez, Ruud Gullit, dan sebagainya menjadi nabi Cruyffistas.

Opa Johan Cruyff kini telah meninggalkan kita untuk selamanya tapi warisannya akan selalu dikenang, bukan hanya oleh FC Barcelona dan Ajax Amsterdam, tapi seluruh dunia sepak bola, termasuk Spanyol.

Tim nasional Spanyol mungkin taat pada kerajaan mereka, dan Cruyff adalah 'presiden kehormatan Katalan', tapi berkat idenya Negeri Matador  yang dulu berposisi sama seperti Inggris, unggulan yang selalu gagal memenuhi ekspektasi, kini berubah menjadi Raja Eropa dengan dua piala Euro secara beruntun, dan satu gelar Piala Dunia.

Warisan Cruyff akan senantiasa terjaga oleh para nabi dan para pengikutnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Guardiola, "Cruyff membangun katedral, sedangkan kita bertugas untuk menjaganya."

Ia mungkin gagal membawa tim nasional Belanda sebagai juara dunia, tapi seperti kata Vic Buckiham, Johan Cruyff adalah berkah Tuhan kepada sepak bola, dan itu tak perlu diragukan lagi.

Danke je, Meneer!


PRIMER EL BARCA!


*diterbitkan pada 25/03/2016
*diedit oleh @Adrieedu 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar