Raihan FC Barcelona Musim 2015/16 dan Perkembangan Liga Spanyol

Kata orang tua jaman dahulu, "hidup sih ga usah ribet. Dibawa santai aja." Entah, katanya pribahasa tersebut susah diterapkan di era matrealistis seperti sekarang. Padahal santai bukan berarti malas. Santai bisa berarti tidak diperbudak oleh duniawi.

Fenomena ini mirip dengan suporter FC Barcelona sekarang. Usai menyabet dua gelar usai memenangkan Piala Copa del Rey kontra Sevilla, Senin (23/5/2016), banyak fans yang menyayangkan dan kecewa karena bisa meraih dua piala saja. Katanya, Barca harusnya bisa meraih treble dengan menjadi kampuin di Liga Champions. 

Salah kah? 

Sebetulnya tidak salah-salah juga. Tapi bukan berarti 100 persen benar. 

Jika melihat kiprah Barca di La Liga, seharusnya sadar jika blaugrana cukup kerepotan. Malahan kepastian juara mesti ditentukan di jornada terakhir. Andai Barca superior dan layak treble, maka seharusnya bisa juara jauh-jauh hari. Tapi kenyataannya tidak. 

Lalu di partai final Copa del Rey pun azulgrana cukup kerepotan melawan Sevilla. Padahal sang lawan bermain terbuka, dimana Barca (seharusnya) tidak kesulitan untuk membongkar lini belakang Sevilla. Tapi (lagi-lagi) pada kenyataannya, kepastian juara baru bisa didapat pada babak tambahan waktu. 

Mungkin bisa beralasan jika gol Jordi Alba dan Neymar di babak extra time itu karena Luis Suarez cedera. Ada betulnya juga sih memang. Tapi cederanya Suarez memperlihatkan beratnya beban yang harus ditanggung otot pesepakbola di Barca. 

Luis Enrique selalu memainkan trio MSN, sampai-sampai ada opini yang mengatakan jika Lucho bisa meraih treble musim lalu hanya karena memiliki modal striker-striker kelas wahid. Logikanya, kala menangani Celta Vigo, raihan Lucho tidak sefenomenal sekarang, jika memang mengandalkan kejeniusan taktik. Tapi karena mengandalkan pemain-pemain kelas dunia, maka tugas Enrique untuk meraih gelar sangat lah mudah. Katanya, pelatih minim pengalaman pun bisa mengerjakan apa yang Lucho raih sekarang. 



Harus diakui jika Enrique memang jarang membongkar lini depan. Trio MSN seakan menjadi fondasi klub yang tidak bisa diutak-atik. Sah? Sah-sah saja. Bukan kah seorang pelatih memiliki hak untuk mendapatkan pemain terbaik dunia, jika klubnya mampu? 

Lalu apa yang salah dari FCB sehingga hanya bisa meraih dua piala mayor di musim ini? Selain apa yang sudah ditulis diatas, juga karena Liga Spanyol kian kompetitif. Lihat saja, duo Atletico Madrid dan Real Madrid kembali bersua di final Liga Champions. Di musim lalu Barca menjadi juara di kompetisi yang sama. Lalu ada Sevilla yang meraih titel Liga Europa untuk ketiga kalinya secara beruntun. Hasilnya adalah Spanyol berhak mendapatkan kuota lima klub untuk berjuang di Liga Champions, untuk kedua kalinya, dimana belum ada liga lainnya yang bisa mengirimkan lima wakilnya. 

Andai ingin berkata jujur, dominasi klub Spanyol di pentas Eropa sangat lah terasa, berbarengan dengan munculnya Los Galacticos jilid pertama. Artinya, meski Madrid dan Barca memiliki fulus yang "tidak "terbatas" alias sulit dihitung jika dalam bentuk receh, tim-tim seperti Deportivo la Coruna, Valencia CF, Sevilla, Athletic Bilbao, Atletico Madrid, Real Sociedad, atau Villarreal malah makin menjadi-jadi, meski tumbuh dan tenggelamnya sangat tergantung kepada kebijakan manajemen, bukan melulu pada uang.

Meski La Liga kalah pamor dari Liga Inggris, tapi secara kualitas, Liga Spanyol lebih kompetitif dan tidak hanya didominasi duo Barca-Madrid. Padahal jika ditilik dari sisi ekonomi, klub-klub Liga Spanyol tidak sekaya tim-tim Inggris yang mendapatkan guyuran hak siar merata. Di Spanyol, pemerataan hak siar baru dimulai pada musim depan, yang artinya Liga Spanyol menawarkan kompetisi yang kian kompetitif dibanding waktu sebelumnya. 

Dengan kondisi seperti ini, maka tidak akan mengejutan jika azulgrana atau Los Blacos akan berada dibawah bayang-bayang klub lainnya. Alasannya sederhana: sebab klub-klub tersebut bisa memiliki prestasi di kancah Eropa tanpa dibarengi modal finansial yang kuat. Sementara Barca-Madrid kerap tergantung kepada kekuatan finansial. Andai kesetaraan hak siar terjadi di Spanyol, maka klub langganan pentas Eropa akan kian tersenyum manis. Bayangkan, klub sekelas Villarreal mampu menawar pemain hingga 50 juta euro, setara dengan apa yang Real Madrid dan Barcelona tawarkan. 

Kembali lagi ke prestasi FC Barcelona musim ini. Sudah seharusnya cules bergembira, tanpa harus dinodai dengan kekecewaan. Ingat, sebuah klub bisa naik dan turun dengan mudahnya. Masih lupa kah dengan Barca yang hanya menjadi figuran semata di pentas Eropa dan di La Liga, lalu kemudian bangkit menjadi klub tersukses di dunia dengan menyabet sextuplet? 

Oleh karenanya, santai saja sebab segala sesuatunya akan berjalan dengan baik asalkan ada usaha.


PRIMER EL BARCA!

1 komentar:

  1. Andai hanya dapat 1 gelar pun tetap bangga sebagai cules.. yang buat saya pribadui kecewa kenapa Atletico Madrid tidak mampu memberi nihil gelar buat tetangga

    BalasHapus