FANATISME SEPAKBOLA

Saya membaca komen di facebook "saya akan menghajar semua orang yang menghina Barca!". Saya hanya kaget membaca komentar seperti itu. Apakah fanatisme sempit sudah menjadi adat dan tradisi di Indonesia? Fanatisme sempit yang menurut saya bisa menuntun kepada disintregasi bangsa Indonesia. Lebay? Coba kita bahas mengenai teori saya ini.

Beberapa hari kebelakang terdapat 2 buah kasus yang cukup menunjukan perilaku fanatisme sempit di Indonesia. Kasus FPI vs Lady Gaga serta kasus Persija vs Persib. Untuk kasus pertama saya melihat sebagai hal yang terlalu berlebihan. Untuk kasus kedua, mungkin saya tidak tahu banyak tentang itu dan saya berusaha bersikap netral karena memiliki banyak teman The Jak & Bobotoh. Namun tetap, kedua hal diatas menunjukan bahwa Indonesia dilanda fanatisme sempit.
Sebenarnya adakah yang namanya fanatisme? Menurut saya, manusia tidak akan bisa menjadi fanatik atau menganut favoritisme sejati. Kenapa? Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan bisa melepas dari manusia lainnya. Contoh: turisme di Bandung tidak akan lepas dari penduduk Jakarta dan penduduk Jakarta yang tidak akan bisa lepas dari Bandung dalam hal industri musik atau industri tekstil. Segala hal di dunia memiliki keterkaitan satu sama lain. Nyawa di balas dengan nyawa? Mau sampai kapan berakhirnya?? Bukankah dalam Islam dilarang sifat pendendam dan balas dendam?

Bisa di bayangkan jika para pemain Barcelona menolak bermain di timnas Spanyol dan hanya mau bermain di timnas Katalan. Atau para pemain asal Real Madrid menolak bermain di timnas karena ada para pemain Barca yang turut serta. Terkesan childish kan? Ok lah, timnas Katalan memang ada, tapi kan belum di nyatakan resmi oleh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepakbola.
Iker sendiri pun berkata bahwa el clasico hanya sebuah pertandingan, tidak akan menjalar ke luar lapangan. Memang tidak salah ucapan Iker tersebut. Meski bagi Barcelona dan suku Katalan berpendapat lain. Tensi pertandingan tersebut panas karena menyangkut kemerdekaan Katalan, tapi sampai saat ini saya tidak melihat adanya tindakan anarkis dari supporter kedua belah pihak ketika pertandingan berlangsung atau ketika di luar arena. Banyak cules yang menyaksikan el clasico di Bernabeu dengan perasaan aman, begitu pun sebaliknya. So, bagi cules atau madridista, kenapa kita tidak meniru para fans Spanyol?

Lihat Background Terdapat Patung Cibeles Madrid.

Apakah supporter Indonesia meniru sikap supporter Celtic vs Glasgow? Rasanya tidak mungkin. Kedua tim yang kemarin bertanding sama-sama beragama muslim dan tidak ada niatan dari salah satu klub menjadi alat politik atau menginginkan kemerdekaan. So, apa alasannya? Suku? Well, Di daerah Jawa Barat terdapat juga suku Betawi, pun di Jakarta banyak suku Sunda. Jadi, apa alasannya? Seharusnya kita lebih mencari persamaan antar individu, dari pada perbedaan. Karena bagaimana pun, setiap manusia dilahirkan berbeda dan pasti memiliki perbedaan.
Sebetulnya rivalitas dalam sepakbola itu hanya bumbu semata. Namun jika sampai menghilangkan nyawa seseorang, saya rasa itu sudah tidak wajar. Seharusnya pemerintah lebih konsern terhadap hal ini. Jangan menganggap persoalan ini entang, karena ini bisa memicu disintregasi antar masyarakat jika ada pembiaran.
Atau mungkin PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola sedang di pusingkan oleh LPI dan LSI? Atau mungkin sedang menikmati "jerih payah" Kemenpora dalam kasus Hambalang? Sudah cukup bagi saya melihat carut-marut dunia sepakbola di Indonesia yang dibumbui oleh politik dan kapitalisme (baca: korupsi).

Banyak teman yang mengatakan bahwa tidak fair atau bahkan terlalu naif jika membandingkan keadaan sepakbola dalam negri dengan sepakbola luar negri. Memang benar, tapi kenapa kita tidak bisa sama seperti mereka? Kan kita sama-sama manusia yang memiliki akal dan pikiran serta empati. Seharusnya kita berkaca terhadap hal-hal positif yang bisa membangun kearah yang lebih baik. Saya pernah membaca "terimalah saran positif (kebaikan), meski itu dari anak kecil sekalipun". Well, jika merujuk ke kalimat tersebut, maka seharusnya Indonesia berbenah, bukannya saling menghujat dan anarkis. Mari kita berfikiran lebih dewasa dan logis.  :)

Bisakah sepakbola di Indonesia menjadi salah satu tujuan pariwisata?


FIDELITAT BLAUGRANA SENSE LIMITS!

7 komentar:

  1. keren euy tulisanya :D :D

    BalasHapus
  2. @bibib makasih. tapi ane masih nubie gan. :)

    BalasHapus
  3. hahaha saya juga nubie kok :D saya follow blognya yah, terimakasih :D

    BalasHapus
  4. @bibib ahahaha saya masih sering di kritik ama editor saya koq. :D
    Blog kk pun bagus tuh. saya follow juga ah. lumayan buat referensi. :D

    BalasHapus