Evolusi FC Barcelona Versi Sekian

Yang namanya perubahan itu penting dan suatu saat akan dialami oleh semua orang. Entah karena diharuskan untuk selalu mengikuti jaman atau karena untuk survive. Sama seperti dinasaurus, yang punah karena tidak bisa survive mengikuti perubahan planet bumi. Manusia, di sisi lain, selalu berubah. Evolusi yang tidak pernah berhenti. Bukan secara fisik mungkin, namun secara teknologi, pemikiran dan kebiasaan. 

Dalam dunia sepakbola pun mengenal yang namanya evolusi. Permainan dari awal abad 19 ini terus-menerus berubah mengikuti perkembangan jaman. Penerapan teknologi dan ilmiah di sepakbola, penerapan dari sisi ekonomi, hingga pengglobalan dunia sepakbola mungkin adalah contohnya. 

FC Barcelona sendiri telah mengalami berbagai perubahan. Filosofi-filosofi pelatih yang memiliki karakter keras biasanya menetap di dalam DNA FC Barcelona. DNA yang tidak bisa dipungkiri, baik oleh para pemain (terutama pemain akademi), para pengambil keputusan dan para fans. 

Dari 20 tahun pertama FC Barcelona terbentuk, sejatinya sudah ada DNA total football. Lebih cepat 50 tahun dari filosofi Marinus Michels di Ajax Amsterdam. Kala itu embrio total football diperkenalkan oleh pelatih legenda asal Inggris, Jack Greenwell yang melihat pentingnya seorang pemain bermain di posisi lain. Pemikiran Greenwell ini didasari bahwa belum adanya sistem pergantian pemain kala pertandingan sedang berlangsung. 


Tata Martino, Sang Pembeda
Permainan short passes dan possession pun pada awalnya bukan lah temuan Johan Cruyff atau Marcelo Bielsa. Permainan short passes dan possession ini dikenalkan oleh di Skotlandia. Untuk mengimbangi tim asal Inggris yang bermain menggunakan keunggulan fisik layaknya rugbi, sebuah klub bernama Queen's Park memakai strategi passing-passing pendek dan permainan ball possession. Hasilnya, menang. Bukan sebuah kebetulan jika pada akhirnya sang pelatih yang bernama Robert Smyth McColl atau yang lebih dikenal dengan nama Toffee Bob melatih Newcastle United dan Ajax Amsterdam sebelum era Rinus Michels. 

Puji syukur alhamdulillah, semua hal diatas kemudian diperkenalkan atau dimainkan oleh FC Barcelona. Hasilnya sudah bisa dilihat; raihan Pep Guardiola di tahun 2007 hingga 2012 di Barca B dan tim utama. Kumulasi dari ide-ide permainan ini kemudian dinamai tiki-taka. 

Seperti yang sudah saya tulis di buku El Llibre del Barca, terutama di bab La Masia, Johan Cruyff membuat gebrakan revolusioner di FC Barcelona, terutama bagi akademi La Masia. Salah satu poin yang penting dalam perkembangan pemain junior adalah tim junior diwajibkan mengikuti strategi yang sama dengan tim senior. Sehingga, ketika para pemain junior promosi ke tim senior, pemain junior tersebut tidak perlu adaptasi berlebih. Sistem ini pada awalnya diperkenalkan oleh Ajax Amsterdam. Agar bisa berhasil, sistem ini memaksa kontinyuitas permainan tim senior kepada pemain junior. Pada akhirnya, pelajaran-pelajaran di La Masia tertanam dalam-dalam di benak para pemain dan menjadi sebuah otomatisasi. Selain itu, permainan yang mengandalkan teknis dibanding fisik kental diajarkan di akademi La Masia. Karena telah diajarkan sejak dahulu, maka tidak menjadi sebuah keheranan ketika Pep Guardiola membawa FC Barcelona ke panggung kesuksesan. Pep hanya "mengaktifkan kembali template" yang telah diajarkan di La Masia. Lulusan La Masia menjadi fondasi di era Pep, dibarengi dengan pemain dari luar akademi adalah rahasia Pep. Maka akan menjadi sebuah kenaifan jika suatu saat FC Barcelona menginginkan skuad murni lulusan akademi. 

Siapa yang masih ingat skema permainan FC Barcelona kontra AC Milan di perempat final Liga Champion Eropa musim lalu? Di leg pertama sangat jelas terlihat jika FCB seakan kehilangan "nyawa permainan". Keadaan berbalik di leg kedua dengan kemenangan 4-0 alias remuntada. Kemenangan fantastis ini bagi beberapa orang adalah sebuah keajaiban semata. Padahal, jika kita lihat lagi, FCB bermain seperti apa yang Pep Guardiola pernah latih. Sebuah template yang mengakar di diri para pemain, layaknya DNA di dalam tubuh para pemain. 

Pada konfrensi pers Gerard Pique kemarin, Pique berkata mengenai "budak tiki-taka". Dari hasil wawancara Pique, saya menangkap jika Tata Martino menginginkan permainan yang berbeda dari pelatih-pelatih sebelumnya, terutama ide permainan Pep. Hal ini wajar, karena hampir bisa dipastikan jika seorang pelatih menginginkan adanya "signature" tersendiri di dalam tim yang ia latih. Sama seperti keinginan Sandro Rosell yang mengidamkan terciptanya "legacy" sang presiden di tubuh FC Barcelona. 

Perubahan yang dilakukan Tata Martino pernah juga dilakukan oleh Tito Vilanova dan Pep Guardiola. Musim 2011/12 dan musim 2012/13 bagi saya adalah musim "coba-coba strategi lain". Mungkin referensi yang saya gunakan kurang valid karena banyak faktor yang mendukung, namun sudah menjadi bukti sahih di klub lain jika sebuah perubahan yang tidak dibarengi dengan kontinyuitas hanya menciptakan kekecewaan. 

Pada pertandingan sebelum-sebelumnya, saya melihat Tata memang merubah permainan Barca. Dan pada pertandingan kontra Ajax, saya yakin 100% jika Tata memang ingin merubah permainan Barca, bukan sekedar memasukan sedikit ide-ide baru. Permainan FC Barcelona yang katanya dikenal sebagai tiki-taka, hilang ditangan Tata. Apakah efektif? Hmm.. Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. 

Sudah saya duga permainan Tata ini di artikel terdahulu. Tidak ada lagi permainan ball possession alias memutar-mutar bola ke beberapa pemain sebelum akhirnya penetrasi. Tidak ada lagi passing-passing horizontal. Acap melakukan counter cepat, passing vertikal dan umpan lambung kedepan menjadi ciri khas ide permainan Tata. Beberapa pemain masih terlihat kesulitan dalam beradaptasi. Wajar, karena mereka diajarkan melakukan short passes horizontal untuk menguras stamina pemain lawan dan permainan ball possession sesuai ajaran Johan Cruyff. 

Sebuah perubahan memang penting, namun kekeras-kepalaan terhadap perubahan tersebut tidak kalah penting. Perubahan yang berujung perubahan-perubahan lainnya tidak akan pernah membawa hasil positif, karena sehebat-hebatnya manusia, pasti membutuhkan proses adaptasi jua. Perubahan, keteguhan hati dan kesabaran adalah kunci kesuksesan. 



PRIMER EL BARCA! 
image: Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar