Claudia Pina, dan Para Pemain FC Barcelona yang Terbuang

Belum lama ini saya telah selesai menulis soal investigasi FIFA terhadap Real Madrid terkait 51 pemain muda. Jika tidak ada aral dan rintangan, FIFA bisa saja menjatuhkan hukuman seperti yang dibebankan kepada FC Barcelona, yaitu larangan pembelian pemain selama satu tahun penuh terhitung dari 1 Januari hingga 31 Agustus 2015. Bisa saja FIFA menghukum El Real lebih berat dibanding Blaugrana, atau mungkin juga bisa bebas. Lengkapnya, silahkan baca di sini.


Entah dari mana asalnya, saya senyum sendiri membayangkan hukuman yang diterima oleh FC Barcelona dan mungkin Real Madrid serta Atletico Madrid. Bagi Barca, hukuman dari FIFA ini memang memberatkan. Tapi saya belajar untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang berbeda. Jika mendapatkan A, maka kita harus melihat sisi B. Agak sulit memang, namun jika sudah terbiasa kita akan semakin banyak bersyukur dan menjalani hidup dengan enteng tanpa beban. 

Bagi FC Barcelona, hukuman FIFA sudah seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Memang mungkin tidak bisa membeli pemain adalah sebuah kerugian, namun memanfaatkan pemain akademi dan mengubah kebijakan transfer pemain menjadi lebih efektif adalah salah satu kelebihan yang didapat dari hukuman tersebut. 

Harus diakui, terlalu naif jika berharap menggunakan 100 persen pemain lulusan La Masia. Ide tersebut bagi saya tidak lebih dari impian omong kosong yang dijual oleh Sandro Rosell. Tidak pernah ada sejarahnya FC Barcelona bisa superior karena mengandalkan pemain-pemain asli Spanyol atau lulusan akademi. Jika masih tidak percaya, silahkan lihat raihan piala di akhir 1960an. Kala itu Liga Spanyol hanya dikhususkan bagi pemain asli Spanyol dan seluruh klub dilarang memakai jasa pemain asing. Hasilnya, Barca hanya meraih satu Piala Copa del Generalisimo pada musim 1970/71. Kala larangan pemain non Spanyol dicabut karena FC Barcelona ingin (arguably) mendatangkan Johan Cruyff, Barca langsung menjuarai titel La Liga di musim 1973/74. 

Jika berbicara mengenai pemain La Masia, saya sering mendengar opini invalid seperti "Si A harusnya bermain di tim utama karena di tim Barca B bermain bagus" dan sebagainya. Menurut saya, opini seperti itu tidak lebih dari pendapat orang yang baru mengenal Barca dan sepak bola. 

Saya masih ingat ucapan Carly Rexach yang berkata jika "Tim muda dibentuk berdasarkan kebutuhan tim utama. Jika tim utama membutuhkan tipe pemain tertentu, maka diwajibkan mencari dahulu di tim muda (Barca B dan lebih rendah dari itu)." Ya kurang lebih seperti itu lah ucapan Rexach. Tapi maksud dari mantan pemain, pelatih, assisten manajer, manajer dan scout di FC Barcelona tersebut bisa ditangkap kan? 

Barca tidak perlu khawatir jika pemain-pemain tertentu yang potensial kabur ke tim lainnya. Kenapa harus takut dan sedih jika seorang wonderkid hengkang ke tim lain? Bukan kah seharusnya kita sebagai fans berbangga hati karena La Masia menghasilkan pemain yang mumpuni. Bakat dan kerja keras, dibarengi oleh kebijakan manajemen yang tepat, akan membuat La Masia tetap hidup. 

Tidak adil bagi pemain andai kita menilai pemain tertentu agar tetap tinggal di  Barca. Kebutuhan tim utama yang didasari oleh penerapan strategi pelatih utama lebih penting dibanding kemajuan pemain-pemain muda. Bagaimana pun juga, nama tim utama masih menjadi komoditas utama klub untuk meraih sponsor yang menghidupi keberlangsungan cabor lainnya. 

Contoh kecil yang bisa menggambarkan paragraf diatas adalah Bojan, Isaac Cuenca, Gerard Deulofeu, Jonathan dos Santos dan Thiago Alcantara. Harus diingat bagaimana nama-nama pemain tadi, harus tersingkir dari tim utama karena kalah bersaing dengan pemain yang lebih mapan posisinya di tim utama. Khusus Thiago, dirinya bahkan melihat kesempatan bermain di tim utama tidak akan terpenuhi kala di sesi wawancara pertengahan 2012. Meski beberapa kali dimainkan, Thiago kemudian hengkang ke Bayern Munich. Lalu ada Jona yang memaksakan impiannya untuk sukses di Camp Nou. Hasilnya? Jona hampir tidak pernah bermain di musim 2012/13 dan 2013/14. Waktu terbuang percuma kan? 

Apakah para wonderkid Barca harus mengikuti jejak Jona? Padahal Jona sendiri bermain impresif bersama timnas Meksiko di musim panas tahun kemarin. Tapi lulus dari La Masia tidak menjamin sang pemain bisa dengan mudah masuk ke tim utama. Pepe Reina, Jeffren Suarez, Gerard Lopez, Alfonso Perez, Ivan De La Pena, Luis Garcia, Nayim, Mikel Arteta, Fernando Navarro, Thiago Motta, Luis Milla, bahkan seorang Cesc Fabregas pun harus mengakui jika dirinya tidak bisa sukses di Barca. Rasa sakit hati mungkin ada, tapi ce'st la vie jika kata orang Perancis. That's life. 

Jika berbicara pemain muda, maka saya seakan wajib berkata soal Claudia Pina. Nama tersebut mungkin masih asing di telinga suporter, namun Pina bukan pesepakbola wanita sembarangan. Ya, dia adalah perempuan dan dia bermain sepak bola lebih baik dibanding kita semua. Saya yakin itu! 

Bagaimana tidak, Pina yang masih bermain di Infatil Avelin dan akan berusia 14 tahun Agustus nanti, sudah bisa menyarangkan 37 gol dalam tujuh laga di musim ini. Meski bukan komparasi yang valid, namun kecemerlangan Pina bisa disetarakan dengan 900 gol yang dicetak oleh Bojan selama bermain tim junior. 

Claudia Pina, yang Kanan
Sialnya (jika saya boleh berkata seperti itu), Pina adalah gadis muda. Dengan bakat yang masih rentan dan dunia pesepakbola wanita yang tidak begitu terkenal, nama Pina akan tidak menonjol. Khusus di Barca sendiri, tim Femeni tidak terlalu banyak penggilanya. Saking minimnya animo suporter, harga tiket pertandingan Liga Champions Wanita pun digratiskan demi menarik minat massa! 

Nama Pina hanya akan mengisi kolom kecil artikel di laman resmi FC Barcelona karena klub sendiri tidak mengekspos nama dia. Jangankan mencari artikel, mencari foto Pina atau mencari link streaming tim FCB Femeni pun masih sukar, jika tidak ingin dikata mudah. Padahal Barca sebagai mes que un club memiliki kewajiban untuk mengenalkan bakat-bakat terpendam yang dimiliki klub ke khalayak umum. Lupakan ketakutan akan dibajak oleh klub lain, karena Azulgrana pun kerap membajak pemain muda dari klub lain. 

Andai kita melihat tim utama pria dan tim utama wanita, maka sudah selayaknya Pina berhak masuk ke skuat Xavi Llorens. Tidak sekarang mungkin, namun dalam beberapa tahun lagi. Sudah saatnya tim Femeni menghilangkan pemikiran pesepakbola wanita yang seksi dan cantik, dan unjuk gigi dengan kualitas sepak bola yang dimiliki seperti sekarang ini. 

FC Barcelona bukan hanya Messi, Xavi, Iniesta, Neymar semata. FC Barcelona memiliki banyak cabang olahraga yang menjadi panutan di dunianya, seperti cabor hoki yang menjadi teladan di timnas Indonesia, atau tim futbol sala yang fenomenal dan sempat berkunjung ke Indonesia. Sebagai institusi, FC Barcelona memiliki bakat terpendam menjadi klub terbesar di dunia dengan ratusan bibit muda yang dimilikinya. Menjual pemain muda adalah salah satu komoditas atau cara untuk menghidupi klub. Sad, but true.


PRIMER EL BARCA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar