Korban Kesuksesan Treble Winner

Ada satu keunikan dari daerah Cirebon yang mana masih kental dengan adat animisme dan dinamisme. Hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam, dimana beberapa wali (penyebar agama Islam di Jawa) pernah dan tinggal di Cirebon. Percampuran ini sungguh ajaib dan bisa tercampur dengan baik. Mungkin ini adalah salah satu wujud dari toleransi atau keberagaman. 


Ketika saya masih tinggal di Cirebon, ada satu kata yang sering saya dengar dan sedikit takut, yaitu wadal. Terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk kata wadal bisa berarti korban jiwa untuk mencapai tujuan dan biasanya materi. Singkat kata: wadal adalah korban untuk pesugihan. Seram kan? 

Well, artikel ini bukan membahas soal hal-hal diatas. Akan tetapi saya melihat adanya kesamaan antara Pedro Rodriguez dan FC Barcelona dan kata wadal diatas. Bukan dalam arti sebenarnya, yaitu mengorbankan jiwa, namun mengorbankan ambisi, kecintaan, finansial dan kans juara. Pedro adalah sang korban dan Barca adalah pihak yang ambisius meraup banyak hal. 

Setelah kemenangan FC Barcelona dari Sevilla FC di ajang Super Eropa tadi dini hari (12/8/2015), muncul berita yang tidak mengenakan. Pedro dikatakan berselisih dengan pelatih kepala Luis Enrique karena tidak dimainkan sejak awal. 

"Saya marah karena tidak bisa bermain sejak menit pertama di laga ini, tapi saya mencoba untuk tetap profesional dengan mengikuti keinginan pelatih dan membantu tim," ujar Pedro seperti dikutip dari AS

"Saya ingin bermain di laga kali ini dan merasa memiliki kesempatan karena Neymar sakit, dimana akhirnya piala kemenangan ini didedikasikan kepadanya. Akan tetapi Luis Enrique lebih memilih Rafinha." 

Singkat kata: Pedro kecewa karena Luis Enrique tidak memainkan dirinya sejak awal pertandingan. Wajar? Sangat wajar karena setiap pesepakbola lebih memilih turut serta di lapangan dibanding hanya melihat di bangku cadangan. Ada semacam kepuasan dan adrenalin, sepertinya. 

Luis Enrique sendiri memiliki alasan kenapa dirinya tidak memainkan Pedro, yaitu cedera yang sempat menghinggapi winger asal Pulau Canary ini. 

"Dua hari yang lalu Pedro berhenti dari sesi latihan karena merasa nyeri pada hamstringnya dan kalian (media massa) telah mengetahui keadaannya jadi saya mengambil keputusan yang saya pikir paling baik dengan situasi yang ada (Rafinha) dan saya akan mencadangkan Pedro lagi jika situasinya masih serupa (cedera). Saya faham kenapa publik tertarik dengan hal ini tapi saya tidak akan berkata apa-apa lagi," ujar Lucho pada sesi konperensi pers usai laga. 

Publik dapat melihat dari dua sisi, yaitu versi Pedro atau Lucho. Apakah nasib Pedro memang sudah tidak sejalan dengan strategi Luis Enrique, atau Lucho berniat mempertahankan Pedro dengan cara tidak membebani otot karena riskan cedera. 

Nama Pedro sendiri sudah kencang diberitakan akan hengkang dari Camp Nou ke Manchester United sebelum 31 Agustus nanti. Sang winger ini pun belum mengambil keputusan mengenai karirnya di musim 2015/16 nanti. Apakah tetap bersama FC Barcelona atau tidak. 

Pedro secara tegas jika ia menginginkan menit bermain lebih dibanding musim sebelumnya. Andai Lucho tidak bisa menjanjikan memberi kesempatan bermain sejak menit awal, maka Pedro bisa saja hengkang ke Stadion Old Trafford. 

Dari sini saya melihat Pedro adalah korban dari kesuksesan musim kemarin, yaitu treble. Seperti diketahui, pada paruh kedua musim 2014/15 Barca lebih sering menurunkan Messi, Luis Suarez dan Neymar dibanding memberikan kesempatan kepada Pedro. Pedro seakan menjadi ban serep yang entah kapan bisa dipergunakan. 

Wajar saja jika Luis Enrique menurunkan trio MSN musim lalu. Setidaknya ada tiga alasan kenapa Lucho lebih memilih MSN (Messi, Suarez, Neymar) dibanding PSM (Pedro, Messi, Suarez). 

Yang pertama adalah strategi. Lucho seakan melihat sosok Neymar cocok dengan apa yang ada dipikiran sang pelatih. Saya sendiri tidak berkompeten untuk menjelaskan lebih detail poin ini, akan tetapi ada sedikit perbedaan antara permainan Neymar dan Pedro. 

Alasan kedua adalah nama besar. Tidak bisa dipungkiri jika jersey Neymar lebih laku dibanding Pedro (Tolong anggota FCBC koreksi soal ini). Ada kepentingan finansial bagi Barca untuk lebih menurunkan Neymar dibanding Pedro, apalagi jika bukan penjualan jersey dan mungkin sponsorship. Jangan salah, Barca membutuhkan pemasukan yang banyak untuk mencicil hutang, dan mewujudkan impian membangun stadion Espai.

Ketiga adalah chemistry antara trio Messi, Suarez dan Neymar lebih terjalin dengan baik. Jika dilihat pada musim lalu (paruh pertama), Pedro tidak terlalu bisa memberi pengaruh yang signifikan. Namun ketika Suarez dapat bermain setelah menjalani hukuman dari FIFA, grafik permainan Barca lebih nikmat untuk disaksikan. Begitu menurut saya. 

Pedro Seakan Tidak Menikmati Gol Kemenangan dari Dirinya
Setelah melihat paparan di atas, maka kita dapat teruskan dengan memperhatikan statistik pertandingan Pedro pada musim lalu. Ia bermain sebagai starter sebanyak 15 kali, dimana Pedro hanya dapat bermain hingga akhir sebanyak delapan laga. Selain itu, Pedro bermain sebagai pemain pengganti sebanyak 20 kali di semua ajang dan menjadi pemain yang sering menjadi pengganti dibandingkan pemain lainnya di musim itu. 

Angka statistik tersebut berbeda di musim 2013/14, dimana Pedro bermain sebanyak 28 kali sebagai starter dan bermain penuh di 10 laga. Di era Tata Martino ini, Pedro hanya sembilan kali bermain sebagai pemain pengganti. 

Jika dilihat dari dua musim diatas, maka kita dapat memahami kegundahan Pedro untuk menjadi pilihan utama. Selain itu, ada satu hal yang terpatri didalam benak saya kala FC Barcelona bertamu ke kandang Fiorentina di Stadion Artemio Franchi beberapa pekan lalu. Kala itu saya mendengar jelas Lucho teriak kepada Pedro untuk mengikuti instruksi yang telah diberikan. Memang hal tersebut biasa terjadi di sepakbola. Akan tetapi entah ada sesuatu yang berbeda. Mungkin itu hanya perasaan saya semata. 

Pedro adalah korban dari situasi yang berkembang di FC Barcelona. Tapi Pedro memiliki pilihan di tangannya; tetap menjadi pilihan kedua atau hengkang untuk menjadi pilihan pertama. Jika ia bersikukuh untuk mengikuti rasa cintanya dengan rela menjadi pilihan kedua, maka dibutuhkan keikhlasan yang sangat luar biasa untuk menerima apa pun yang terjadi dikemudian hari. Hengkang dan mencari rasa cinta baru agar dapat menjadi pilihan pertama agaknya merupakan opsi yang logis. Kali ini FC Barcelona harus menerima ledakan keegoisan Pedro yang sebelumnya ia simpan rapat-rapat. 



PRIMER EL BARCA!

2 komentar:

  1. 2009 dia juga penentu kemenangan piala ini ya?...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Piala Kemerdekaan? Tetot. Anda salah. :p

      Hapus